0
comments
Rabu, 10 Februari 2010
0
comments
Kamis, 04 Februari 2010

Desa
Apa arti, “desa mawacara, Negara mawa tata?”
Artinya, jika desa membuat gara-gara, negara jangan ikut campur,” kata I Wayan Nigtig Tangkah.
I Wayan adalah seoang ‘pahlawan’ di desanya. Dadanya sudah tipis akibat penyakit TBC, disamping karena keseringan menepuk dada.
Dua hari yang lalu dia memimpin penduduk desa untuk membongkar bak air yang dibangun oleh dinas PU di desanya. Bak air tersebut hendak dimanfaatkan untuk kepentingan desa-desa yang lain disekitarnya terutama yang sumber airnya jarang.
“Apa maunya pemerintah itu, mereka mau mengambil mata air milik kita. Dari dulu mata air tersebut ada di desa kita.”
Jangankan masalah UUD 1945 yang secara jelas menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam adalah milik Negara, bukan milik desa, konsep hidup rukun bertetangga pun di tidak begitu faham.
Sudah jelas-jelas mata air itu berada di wilayah desa tetangga dan cukup untuk semua, dan tidak habis untuk dipakai bersama, tetap saja Wayan tidak mau mengetri.
Masalahnya bukan Wayan saja yang tidak mengerti. Buktinya begitu diajak membongkar bak air tersebut, semua warga turut serta. Yang tidak ikut, mereka menabuh gamelan untuk memberi semangat.
Sepertinya perilaku desa tidak jauh-jauh dari perilaku warganya.
Sampai sekarang memang sulit mencari keluarga di Bali yang bisa hidup rukun pada tempat yang sama. Kebanyakan dari mereka ribut, saling sindir, saling bersilang kata-kata gasar, bahkan dengan memakai ilmu hitam.
Jika di lingkungan keluarga saja sudah tidka akur apalgi dengan tetangga. Jika tetangga berhasil, kebanyakan dari orang Bali akan mengernyitkan alis, dan berusaha mencari jalan agar tetangganya tersebut cepat jatuh.
Semestinya semakin sukses tetangga, kita mesti bersyukur, karena akan lebih mudah jika kita perlu bantuan mereka.
Kenyataannya adalahjika tetangganya punya mobil baru, maka mereka serempak memusuhinya. Minimal mereka akan menuduh tetangganya tersebut sebagai orang yang OKB, atau memakai ilmu hitam atau bahkan korupsi. Akibatnya, orang bersangkutan akan dimusuhi dan nanti kalau ngaben, bade (tempat mayatnya) akan di obrak-abrik.
Karena banyak sekali ornag Bali yang memiliki perilaku seperti ini maka otomatis banyak desa yang berperilaku seperti ini.
Akibatnya mereka iri dengan desa tetangganya. Jika desa tetangga mengadakan upacara Ngenteg Linggih yang menghabiskan biaya sampai 500 juta, maka mereka akan berusaha mencari alasan agar bisa mengadakan upacara, misalnya dengan merenovasi atau membongkar pura. Semua berfikir keras supaya nanti upacara (karya)nya bisa menghabiskan uang 1 milyar. Setelah habis 1 milyar, semuanya tersenyum senang, menepuk dada, merasa diri lebih sukses disbanding desa tetangga, merasa kaplingnya di surga lebih luas karenamenghabiskan uang untuk upacara lebih banyak.
Masalah uangnya berasal dari bank ― sehingga warga harus bekerja membanting tulang untuk membayar cicilan ― masalahnya setelah karya banyak warga yang kena PHK karena sering libur karena ikut membantu persiapan upacara (ngayah); masalah dari mulai persiapan upacara para penggarap sudah saling berdebat dan juga panitya karya yang saling ungkit masalah penggunaan upacara, tidak ada yang memperdulikannya.
Yang penting hanya satu hal, desa mereka bisa lebih hebat dari desa tetangga. Meskipun bangkrut, yang penting sombong, begitu somboyannya.
Jadi hanya baru sampai di sana pemikiran orang Bali.
“Sekarang sudah abad 21. Sebentar lagi Asia Free Trade berlaku, artinya bahwa orang asing bisa menjual barang apa saja disini. Kenapa pikiranmu masih sempit saja,” I Made Bali Jani memberi nasehat.
“Aku lahir di nisi, besar di sini, sekolah di sini, drop out di sini, besok lusa aku mati dn di kubur di sini. Aku tidak ada urusan dengan abad 21 dan Asia,” sahut Wayan sambil menepuk dada.
0
comments
8 A.M, 4 FEBRUARY, 2010





Comment from Gung De:
Barong Landung adalah pralingga, sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Bahkan di banyak tempat,Barong Landung dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu. Kisah yang bersumber ketika Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, kerajaannya berpusat di Panarojan, tiga kilometer di sebelah utara Kintamani. Sri Jaya Pangus dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.
Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.
Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu.Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.
Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka.Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri -- Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei -- itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.
Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Ia dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan "dihidupkan" dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya -- ang, ung, dan mang.
0
comments
Diambil dari posting di FB – Halaman dialog "SELAMATKAN BUKIT"
@ AMir: masalah: Jangan berfikir negatif dan sinis", dan masalah:"pendidikan".
@ PAk AMir: Masalah: “tidak berfikir negatif " dan "masalah pendidikan"
Dan mungkin tahu Pak Amir, hidup adalah sebuah pendidikan, dan saya telah menyadari bahwa:
1. Jika Bali tidak bisa membuat jalan lingkar/by pass tanpa ada bangunan perkotaan yang merusak jalur hijau, apalagi setelah 3 kali gagal, maka selamanya tidak akan pernah bisa. Sehingga berfikiran negative dan sinis terhadap situasi pengaturan lalu lintas pada saat sekarang di Bali Selatan menjadi sebuah keadaan pikiran yang sehat. Sehingga jika kita setiap hari jalan-jalan dengan perasaan gembira sambil berkata: "WOW, alangkah bagusnya papan reklama besar baru milik SEA SANTOSO yang menutup sebagian besar pemandangan sepanjang jalan Sunset Road!!!" akan menjadi sebuah delusi. Berpura-pura bahwa sejumlah orang-orang Indonesia yang berpendidikan akan bisa membawa perubahan dengan berbicara pada rapat di gubernuran adalah sebuah kesia-sian. Tapi kita juga mesti ingat: ‘Tidak ada salahnya terus berharap.
(Seorang yang terkenal dan berpendidikan dari Jakarta pernah berujar, karena merasa gerah dengan munculnya selera Ibu PKK/Orde Baru: "Jika orang Jakarta didikan belanda terakhir sudah mati, maka kota akan kembali ke jaman Barbar
Dia memang berbicara dengan bahasa metaforis. Dan dia adalah seorang nasionalis tulen.
2. Jika sebuah budaya tidak bisa menjaga warisan leluhurnya, seperti yang kita amati di Bali saat ini – ketika gapura dan pura dari bata merah bergaya Majapahit dirobohkan, hampir setiap hari – dan diganti dengan batu hitam bak monster dan prasati dari marmer putih yang terjadi hampir di semua pura – maka tidklah berlebihan kalau orang menjadi gelisah dan sinis. Terutama bagi seseorang yang telah 35 tahun menghabiskan waktunya mengabadikan keindahan dan daya tarik yang mesti dijaga.
3. Jika saya telah memutuskan di tahun 1973, untuk menghabiskan hidup saya di Bali, itu karena Bali memiliki daya tarik pemandangan yang luar biasa dan tata ruang yang bagus , maka, akan tetapi disamping itu, saya memilih Bali karena saya jatuh cinta dengan penduduk dan budayanya, yang hebatnya, meskipun digempur oleh polusi visual dan kerusakan lingkungan, tetap tidak berubah. Dan saya kira, kita bersyukur bahwa kita para pendatang yang berpendidikan merasakan hal yang sama. Dan saya kira bahwa adalah sebuah kekonyolan jika kita percaya bahwa tekanan sekeras apapun akan bisa merubah para pengembang yang berdarah dingin, keras hati dan tidak simpatik (terhadap lingkungan dan budaya; hadapi saja kenyataan ini) – Lihatlah Sakenan, Tanah Lot.
Negatif dan sinis menjadi sesuatu yang baik bagi kami (para konsultan desain) pada saat berurusan dengan pengembang dan klien yang ngawur (yang jumlahnya 95%, kalau tidak percaya, tanya saja arsitek yang lainnya juga……jangan hanya mengandalakan apa yang saya sampaikan)......Tapi saya yakin saya tidak akan menyerah.
























