Senin, 15 Desember 2008

Rahasia Kotor Dunia Arab

Dari: The Arab World's Dirty Secret oleh Mona Eltahawy
Diterjemahkan oleh: Rahmat Hidaya
t


New York: Saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah di atas metro Kairo, pikiran saya melayang sambil mendengarkan musik. Tak lama saya mellihat seorang perempuan Mesir mengejek seorang gadis Sudan. Perempuan Mesir tersebut menjulurkan tangannya dan berusaha menarik hidung si gadis Sudan dan tertawa saat si gadis Sudan berusaha mengelak.

Gadis Sudan ini terlihat seperti berasal dari suku Dinka, di bagian selatan SUdan dan bukan berasal dari bagian utara Sudan yang "mirip dengan kami." Jelas terlihat dia sangat sedih.

Kemudian saya melepas headphones dan bertanya kepada perempuan Mesir, "Mengapa anda memperlakukannya seperti itu?"

Dia marah besar dan berteriak, bertanya mengapa saya mencampuri urusannya. Saya mengatakan bahwa ini menjadi urusan saja juga karena sebagai seorang Mesir dan Muslim yang sama-sama berada di dalam metro, perbuatannya melampaui batas dan saya tidak bisa berdiam diri. Saya tahu dia seorang muslim dari kerudung yang dikenakannya.

Saya mengatakan kepadanya bahwa cara dia memperlakukan gadis Sudan tersebut telah membuat kerudungnya menjadi tidak berarti. Ibunya kemudian bertanya mengapa saya tidak mengenakan penutup kepala dan saya menjawab bahwa saya tidak ingin menjadi seorang yang munafik sebagaimana dirinya dan putrinya.

Kesal dengan perlakuan perempuan tersebut, saya juga sangat kesal dengan perempuan-perempuan lain di atas Metro hanya melihat dan tidak berbuat apa-apa. Mereka sama sekali tidak berusaha untuk membela gadis Sudan tersebut maupun saat saya sedang berselisih dengan si perempuan Mesir.

Setelah perempuan Mesir turun di salah satu stasiun, saya bertanya kepada perempuan-perempuan lainnya mengapa mereka tinggal diam. Salah seorang di antaranya menjawab bahwa mereka tinggal diam karena perempuan rasis tersebut akan balik menyerang dan meneriakinya. Saya bertanya, "Lalu?" Jika terdapat cukup wanita berselisih dengannya maka dia akan kalah dalam jumlah.

Saya meminta maaf kepada gadis Sudan atas kelakuan perempuan Mesir dan dia berterimakasih lalu berkata "Orang Mesir memang jahat". Saya membayangkan di lain waktu dia akan dilecehkan di depan umum.

Kita merupakan orang-orang rasis di Mesir dan sama sekali tidak mengakuinya. Pada halaman Facebook saya, saya menyalahkan rasisme untuk argumen saya dan seorang laki -laki Mesir menulis untuk menyanggah bahwa kami rasis dan sebagai buktinya dia menggunakan sebuah program radio Mesir yang menampilkan lagu-lagu dan puisi dari Sudan.

Kebisuan kami mengenai rasisme bukan hanya menghancurkan kehangatan dan keramahtamahan yang menjadi kebanggaan sebagai orang Mesir, tapi juga memiliki konsekwensi yang mematikan.

Apakah bukan rasisme jika pada 30 Desember 2005, sejumlah orang yang bukan polisis dibiarkan untuk memasuki pengungsian di pusat kota Kairo untuk membantai 2500 pengungsi Sudan, menginjak atau memukuli 28 orang sampai mati, di antaranya wanita dan anak-anak?

Apakah bukan rasisme yang berada di belakang statisitk yang berdarah di perbatasan Mesir dan Israel sejak tahun 2007, tempat sejumlah pasukan Mesir membuunuh setidaknya 33 migran, sebagai besar berasal dari Darfur, Sudan, termasuk seorang wanita hamil dan seorang gadis kecil berumur 7 tahun?

Rasisme yang saya saksikan di metro Kairo memiliki gaung terhadap dunia Arab secara keseluruhan, di mana penderitaan di Darfur terabaikan karena korbannya adalah kulit hitam dan karena pihak yang menciptakan penderitaan tersebut bukan Amerika atau Israel dan kita hanya memberi perhatian jika Amerika dan Israel melakukan tindakan yang kejam.

Kita terus saja berteriak mengenai "Phobia Islam" ketika kita membicarakan bagaimana minoritas Islam diperlakukan di negara-negera Barat namun kita tidak pernah membicarakan bagaimana kita memperlakukan kaum minoritas dan orang-orang yang paling menderita yang ada di sekitar kita.

Stasiun televisi Amerika ABC baru-baru ini menayangkan sebuah skenario di mana seorang aktor yang berperan sebagai penjaga toko roti dan menolak untuk melayani seorang perempuan yang berperan sebagai pelanggan muslim. Adegan ini ditujukan untuk melihat apakah pelanggan lain akan membantu perempuan muslim tersebut.

Tiga belas pelanggan berusaha membelanya dengan meneriaki si penjaga toko, meminta manajer toko untuk menemui mereka, atau keluar dari toko dengan perasaan kesal. Enam pelanggan mendukung si penjaga toko, dan 22 pelanggan lainnya hanya melihat namun tidak berbuat apa-apa.

Saya bertanya dalam hati stasiun televisi mana di Mesir yang akan melakukan percobaan yang sama? Dan stasiun televisi Arab mana yang akan berani menayangkan acara yang secara terang-terangan menghadapkan kita pada pertanyaan "apa yang kau lakukan?"

Bagi kita yang pindah ke bagian dunia yang lain - di mana pada suatu saat kita adalah mayoritas sebagaimana saya adalah seorang Muslim Sunni di Mesir dan saat lainnya menjadi minoritas sebagai muslim di Amerika - menjadi sadar bahwa membela hak seorang gadis Sudan di Metro Mesir sama halnya dengan membela hak saya di kereta bawah tanah New York.

Kita hidup di dunia yang terhubung dengan cara-cara yang tak terduga. Dan hubungan tersebut saat ini juga mencakup hak. Jika kita ingin hak kita dihargai, maka kita harus melakukan sesuatu dengan baik, di manapun.

Mona Eltahawy adalah kolumnis untuk AL Masry Al Youm (Mesir) dan Al Arab (Qatar). Dia menetap di New York.