Kamis, 30 September 2010

Bungklang Bungkling: Pratima oleh Wayan Juniartha.

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Pratima, di harian Bali Post, Minggu, 26 September 2010, oleh I Wayan Juniartha Diterjemahkan oleh Putu Semiada.



Pratima
Kenapa orang Bali sampai mencuri pretima (benda-benda suci di pura)?
“Karena hanya itu saja yang diketahui bagaimana cara mencurinya,” kata I Made Prasangka Curiga.
Hanya orang Bali yang tahu bagaimana cara menyimpanya. Hanya mereka juga yang tahu jam berapa saja puranya sepi. Begitu pula siapa yang bisa mengetahui patung kayu yang mana yang biasa dan yang mana yang sudah tua dan antik serta berharga mahal.
“Mereka tidak tahu bagaimana caranya mencuri motor dan bagaimana caranya membuat kunci palsu. Sedangkan kalau untuk menjadi penjambret, mereka merasa gengsi, malu kalau mesti merampas dompet perempuan. Jika menjadi maling biasa, takut nanti kalau tertangkap dan dihajar masa.”
Karena jauh lebih gampang mencuri di pura dan sudah tahu bagaimana caranya, sehingga pretima yang menjadi sasaran pencurian. Disamping itu menjual pretima juga lebih gampang dibandingkan computer, televisi, maupun barang elektronik lainnya. Banyak turis yang sangat berminat mengoleksi barang-barang antik, mereka menghias vila-vila milik mereka dengan patung-patung kuno dan menaruh patung garuda di ruang tamu dan patung bidadari di kamar mandi.
“Maksudku kenapa orang Bali berani sekali mencuri pretima. Bukankah pretima itu benda suci dan sakral?” tanya I Wayan Kesiab-Kesiab.
Mereka mengangguk-angguk. Semuanya memang pada heran mengapa orang Bali tega mencuri pretima. Tega menjual yang sakral demi uang. Tega membuat cemar rumah sendiri.
“Kalian memang semua sudah takabur dengan citra palsu yang diciptakan industri pariwisata, citra bahwa orang Bali itu 100% orang baik, sayang keluarga, gemar menabung, pencinta damai, tidak mata duitan, jujur, bersih dan adil,” ujar I Madé.
Sebenarnya sudah sejak dahulu banyak sekali orang Bali yang suka mencuri, menjual, termasuk mencuri dan menjual yang sakral-sakral.
“Siapa yang menjual tanah milik pura (pelaba pura)? Siapa yang menjual pantai yang biasa dipakai untuk upacara melasti? Siapa juga yang menandatangani surat ijin supaya investornya bisa membangun lapangan golf di Tanah Lot. Siapa yang mengadakan ‘pasupati’ (menjadikan keramat) bendera partai dan sumpah politik di pura. Siapa yang mempunyai gagasan untuk mengadakan upacara ini dan itu sehingga bisa menjual banten (sesaji). Siapa yang mengaku-ngaku kerauhan (trans) dan menyebut-nyebut nama Tuhan.
“Bukannya orang Jawa atau pun Islam yang berbuat seperti itu. Justru orang Bali sendiri yang mencuri, menjual, membuat cemar dan merusak wilayahnya sendiri.”
Lalu mengapa orang Bali mencuri pretima? Sebab hanya pretima saja yang masih tersisa. Yang lainnya sudah habis terjual. Lalu kenapa orang Bali berani mencuri sesuatu yang sakral?
Mungkin karena betara (leluhur) dan pretima sudah tidak sakral lagi. Yang sakral hanyalah Ida Sangyang Rupiah.

================================

 
Temple Paraphernalia (Pratima)
Why do some Balinese dare to steal their temple paraphernalias (pratima)?
“It is because they know how to steal it easily,” says I Made Prasangka Curiga (I Made Prejudice and Suspicious).
His opinion is based on the fact that only the Balinese know where the paraphernalia are stored and when is the right time to steal them. The Balinese also know which ones are common wooden statues and which ones are antique and worth millions of Rupiahs.
“They don’t know how to steal a motor bike because they can not make fake keys. They don’t want to be snatchers either because they think it is not a prestigious job, nor criminals as they are afraid to be caught and hit by people.”
It is considered much easier also to steal something in the temple. They know what and how to do it. And they know that a pratima is the most precious thing in the temple. And it is much easier to sell it compared to computer, television, or other electronic appliances. Many westerners are eager to buy antiques for their collections. They like to decorate their villas with old statues; Garuda statues in their living rooms and angel statues (widyadari) in their bathrooms.
“My question is why do some Balinese dare to steal pretima? Aren’t pretima sacred?” asks I Wayan Kesiab-Kesiab (I Wayan Easily Startled).
It seems that everybody cannot believe Balinese dare to do that and sell for Rupiah. Balinese ruin their own belonging.
“Well, you are all too obsessed of ‘fake image’ of the Balinese created by tourism industry that the Balinese are 100% good people, love their families, like to save their money, love peace, not worldly minded, honest, clean and fair,” comments I Madé.
As a mater of fact, there have been many Balinese doing bad things such as stealing and selling sacred things.
“Look! Who sell the temples-owned lands and the beaches where we do ‘melasti’ ceremonies; sign papers that allowed the investor build golf course at Tanah Lot; ‘magical power charging’ for a political party’s flag and political oaths at temples. Whose ideas are they to make many kinds of ceremonies so that they are able to make good business from selling offerings? Who claim themselves of going into trance and calling the gods’ names (Ida Bethara)?”
“It’s not the Javanese nor the Muslims do that. It’s the Balinese who steal, sell, and ruin their own island.”
The question is why the Balinese steal pretima? Probably it is because that’s the only thing left. The rest has been sold.
And why do they dare to steal the sacred things? Because nothing is sacred in Bali anymore. The ‘sacred’ thing is only the Rupiah.