Selasa, 21 Desember 2010

Bungklang Bungkling: BURON (Binatang) oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Buron’, di harian Bali Post, Minggu, 17 Desember 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada







BURON (Binatang)


Manakah derajatnya yang lebih tinggi antara hewan dan manusia?


“Itu sih pertanyaan yang gampang sekali, jelas sekali manusia lebih tinggi derajatnya. Oleh karena itu, manusia yang jahat, yang derajatnya lebih rendah akan dikatakan seperti binatang perbuatannya,” kata I Made Darmawacana.


Yang lainnya pada manggut-manggut. Maklum semua anggota perkumpulan tuak (krama sekaa tuak) adalah manusia, tentu mereka akan senang kalau ada yang mengatakan bahwa manusia paling tinggi derajatnya. Jika ada yang mengatakan bahwa manusia paling tinggi derajatnya di alam semesta, tentu mereka bukan manggut-manggut saja. Mereka akan tepuk tangan sampai tangannya terasa lepas.


“Oleh karena itu, manusia yang bodoh dibilang seperti “kerbau sedang menonton gamelan (kebo mebalih gong)”, orang bingung dibilang seperti ayam diberi makan beras hitam (siap sambuhin injin), mereka yang tidak tahu membalas budi dibilang seperti anjing (nyicing singal), mereka yang member pinjaman dibilang lintah darat, atau mereka yang takut sama istri dikatakan ‘ditarik babi’ (paid bangkung),” tambah I Made.


Krama tuaknya makin terpersona oleh kepiawaian bicara I Made.


“Nama binatang juga dipakai untuk untuk mengumpat: mulai dari ‘anjing kamu’ (cicing nani), sampai ‘kera hitam’ (bojog selem), itu artinya binatang memang derajatnya lebih rendah dari manusia.”


Lagi-lagi krama sekaa tuaknya manggut-manggut. Jika terus-terusan seperti ini maka mereka akan bisa menjadi anggota dewan. Syarat utamanya hanya perlu manggut-manggut saja tanpa harus pusing, keram, ataupun ‘lepas’ kepalanya.


“Tunggu dulu, apakah memang benar sifat manusia lebih agung dari binatang,” I Ketut Nyem Lalah menyela.


“Jika binatang membunuh binatang lainnya tentu karena perutnya lapar. Jika perutnya sudah kenyang tentu dia akan berhenti memangsa hewan lainnya. Sebaliknya, jika manusia, walaupun perutnya sudah kenyang, tetap saja dia membunuh, mulai dari berebut harta, perempuan, hingga merebut kekuasaan negara.”


Oleh sebab itulah tidak terhitung jumlah perang yang diciptakan oleh manusia, mulai dari perang jaman kerajaan hingga perang dunia sampai ke perang Irak dan Afghanistan. Sementara warga binatang sampai sekarang belum pernah membikin perang.


“Pernahkah binatang membakar rumah orang, memperkosa istri orang, menimbun danau untuk dijadikan kompleks, membabat hutan untuk membangun villa? Pernah?” Tanya I Ketut kepada mereka.


Tidak ada yang berani mengangguk. Semuanya memilih untuk menggeleng-gelengkan kepala mereka.


“Pernahkah binatang membuat senapan, meriam, bom dan tank agar lebih gampang membunuh manusia? Pernahkah manusia membuat bom atom? Bom nuklir?


Lagi-lagi mereka menggeleng-gelengkan kepala. Mereka belum pernah melihat seekor kera menenteng AK-47 atau menembak manusia. Yang mereka tahu bahwa Amerikalah yang menjatuhkan bom atom di Jepang.


“Nah sekarang kalau semuanya sudah jelas siapa yang senang merusak, siapa yang rakus dan serakah, siapa yang senang membuat rusuh, sekarang coba jawab mana yang lebih tinggi derajatnya binatang dibandingkan manusia?” I Ketut bertanya.


Mereka semua terdiam, semua menundukkan kepala, tetapi mereka diam tidak berani memberikan jawaban.


Selasa, 14 Desember 2010

Bungklang Bungkling: Galungan oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Galungan’, di harian Bali Post, Minggu, 12 Desember 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada




GALUNGAN

Warung tuak tampak sepi. Kalau musim upacara seperti halnya Galungan dan Kuningan seperti sekarang, jumlah konsumen warung tuak pasti menurun. Hal itu bukan karena mereka sudah pada insyaf atau sudah menjadi anggota FPI (Forum Pengeng Inguh = Forum Manusia Bingung).

“Warung tuak sepi karena kebanyakan minum bir dan coca cola. Mereka baru saja mendapat THR (Tunjangan Hari Raya), jadinya mereka gengsi minum tuak,” kata I Made Buta Dungulan.

Hanya I Made dan I Ketut Tuak Labuh yang ada di warung tuak. Dua-duanya tidak mendapat THR. Dua-duanya tidak mempunyai pekerjaan dan tidak bekerja, bagaimana mereka bisa mengharapkah THR?

“Warung sepi karena krama yang lain sibuk di tempat lain,” kata I Ketut.

Tempat lain itu maksudnya adalah arena sabungan ayam, arena kartu ceki dan kartu domino.

“Inilah hebatnya Galungan. Semua laki-laki (Bali) berlomba-lomba bangun pagi, tergopoh-gopoh ke pura keluarga (sanggah) dan pura, kemudian cepat-cepat sembahyang supaya bisa segera ke tempat sabungan ayam dan main ceki sampai larut,” I Ketut tertawa cekikikan.

Memang luar biasa. Pada Hari Raya Galungan, semua bhetara turun ke bumi, leluhur juga cuti dari sorga, sehingga bisa menengok anak cucunya, anehnya yang sibuk ‘melayani’ leluhur hanya yang perempuan saja. Rasanya hampir putus pinggang mereka merayakan Galungan, sampai lepas rasanya lutut mereka kesana kemari dan naik turun tangga menghaturkan sesaji, sampai hancur pewarna kukunya untuk mempersiapkan kelengkapan sesaji, sampai rusak bedaknya kena keringat karena membawa sesaji di atas kepalanya.

Memang hebat. Pada saat Galungan yang laki-laki sibuk libur. Mempersiapkan masakan sebentar — yang hasilnya juga dimakan sendiri, membuat penjor sebentar, setelah itu mereka mengaku kehabisan tenaga, sakit pinggang, tidur, terus malamnya main kartu ceki.

Memang hebat. Ida Betara dan Leluhur turun (tedun), sabungan ayam makin banyak, permainan ceki makin marak, bola adilnya makin seru, dagang birnya makin laris.

“Hanya orang Bali saja yang bisa menggabungkan antara judi dengan ritual, sehabis sembahyang lalu berjudi sabungan ayam, hanya laki-laki Bali saja yang bisa merayakan Galungan dengan minum-minum, bermain ceki, dan berkelahi sama saudara sendiri,” I Made tertawa terkekeh-kekeh.

Hanya orang Bali yang bisa merayakan kemenangan dharma dengan beramai-ramai melakukan adharma.

“Kalau agama-agama lainnya jelas kurang seru perayaan hari rayanya. Sehabis sembahyang, mereka mendengarkan ceramah agama selama berjam-jam yang isinya dilarang begini dan begitu, serasa kuping mau lepas. Sehabis itu mereka mesti memberikan sumbangan kepada orang miskin. Jelas kurang greget perayaan agama-agama lainnya,” tambah I Ketut lagi.

“Memang agama Hindu yang paling asyik dan gaul,” sahut I Made ssembari bersendawa, karena tuaknya memang enak sekali.

Jika agama lain kebanyakan aturan, agama Hindu bisa-bisa saja, bisa berjudi sabungan ayam yang penting pulangnya masih ada yang bisa dibawa, masih boleh minum yang penting jangan sampai mabuknya ngawur.

“Dan tidak perlu memberi sumbangan apa-apa kepada orang miskin. Jika saking miskinnya tidak bisa membayar iuran (peturunan), ambil saja harta miliknya dan kucilkan (sepekan). Dari pada member sumbanagan kepada orang miskin, lebih baik uang digunakan untuk selingkuh, boleh selingkuh asal tidak sampai merusak keluarga sendiri,” I Ketut terkekeh-kekeh.

Memang tidak boleh merusak keluarga, apalagi sampai mengusir istri. Jika istri sampai pergi, siapa yang akan mengurus Galungannya. Kalau para CO (Cewek Orderan) tidak bisa membuat sesaji, mereka hanya bisa memoroti dompet saja.

“Memang bagus sekali agama kita, sampai kapanpun aku akan terus beragama Hindu,” kata I Made sambil bersendawa lagi. Enak sekali tuaknya.

Selamat Hai Raya Galungan, mari bersama-sama kita membela kebenaran (dharma) dan melestarikan Bali dengan giat berjudi sabungan ayam, sering minum, rajin menyakiti saudara sendiri, serta mengucilkan saudara-saudara yang miskin!


Sabtu, 11 Desember 2010

Bungklang Bungkling: Asuransi oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Asuransi’, di harian Bali Post, Minggu, 5 Desember 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada




Asuransi

Dahulu kebanyakan orang Bali tidak perlu asuransi.

Maklum, jenis penyakit dahulu tidak begitu banyak, paling-paling hanya dimakan ‘leak’ (amah leak), kalau tidak halunisasi (kepangor). Sehingga pengobatannya pun tidak begitu mahal, tidak ruwet dan tidak lama. Yang dimakan leak cukup dibawa ke dukun (balian), sambil membawa sesaji (pejati) dan sumbangan (sesari), maka akan langsung mendapat obat (tamba). Kalau tidak sembuh, ya paling juga mati.

Yang berhalunisasi cukup menyatakan permintaan maaf (guru piduka) kepada para dewa (bethara) yang merasa tersinggung. Cukup memberikan sumbangan (sesari) kepada pendeta (pemangku), nanti akan dikasi air suci (tirta).

“Jika para dewa maha pengasih maka dia akan sehat, tapi jika dewanya mengidap hipertensi dan pendendam maka dia akan mati,” kata I Made Katulebo sambil terkekeh-kekeh.

Prosedur pengobatan gampang, hasilnya cepat. Sehingga mereka tidak perlu asuransi kesehatan.

Mereka juga tidak perlu asuransi kematian. Sebab kalau mati pasti akan diurus oleh warga (krama). Tidak ada yang namanya orang Bali sampai tidak mendapat kuburan. JIka keluarganya tidak punya uang untuk ngaben, maka desa akan turun tangan untuk upacara ngabennya.

“Mulai dari seseorang meninggal, sampai proses menjadi dewa pitara (dewa leluhur), semuanya sudah ada yang mengurus, jadi tidak perlu khawatir,” tambah I Made lagi.

Warga lainnya manggut-manggut saja tetapi tidak member komentar. Semua sedang memikirkan uangnya yang tidak jelas nasibnya di perusahaan asuransi yang baru saja ditutup oleh polisi.

Kalau jaman sekarang memang perlu asuransi kesehatan karena jenis penyakit semakin banyak. Mulai dari penyakit seram seperti kanker, penyakit ‘nasib buruk’ rabies (kalau bukan nasib buruk masak cuma digigit anjing bisa mati), hingga bebainan (teluh) modern, seperti yang menimpa para anggota DPR, yang senang sekali ke sana kemari jalan-jalan), hingga ‘mulut usil’ (bebainan bungut maong) yang menimpa mentri hingga presiden. Ciri-ciri penyakit ini adalah ngomong yang tidak perlu, tidak lucu, dan hanya bikin ribut saja).

“Meskipun bebainan modern tidak sampai membuat anggota DPR, mentri dan presiden tidak sampai meninggal, tetapi telah membuat rakyat depresi dan sakit hati.”

Pengobatan moden juga rumit dan mahal sekali. Dan hasilnya juga lama baru tampak.

“DI Puskesmas satu minggu, setelah itu di rumah sakit kabupaten satu minggu, kemudian dirujuk ke RSU Sanglah. Di sana juga tinggal satu minggu. Setelah satu bulan dibawa ke sana kemari, tetap saja akhirnya yang sakit itu meninggal. “

Yang sakit meninggal, yang hidup menanggung biaya rumah sakit, dokter, obat dan ambulan, yang harganya sama dengan sawah satu petak. Karena itulah perlu ikut asuransi kesehatan sekarang.

Jaman sekarang, matipun perlu biaya yang banyak. Apalagi jika ingin dikubur seperti pejabat, kuburannya dibeton dan dilapisi marmer. Apalagi jika ingin diaben seperti cokorda, memakai bade yang tinggi sekali serta diliput oleh wartawan televisi. Persoalan akan bertambah jika sewaktu hidupnya mempunyai masalah dengan warga. Jelas perlu uang sebagai upaya penyelesaian (penanjung batu). Kalau tidak, meskipun sudah mati, maka masih saja akan dipermasalahkan oleh warga.

“Oleh karena asuransi kematian sangat penting, supaya nanti kalau meninggal tidak membuat susah saudara, dan pada saat meninggal saudara-saudara kita bisa membagi-bagi uang sambil senyum-senyum.”

Karena I Made terlalu banyak bicara, warga menjadi jengkel.

“Kamu jangan terlalu banyak omong, De. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya supaya uang warga bisa kembali didapat dari asuransi bodong itu?” I Wayan Sugu Segul bertanya.

I Made hanya senyum-senyum saja.

“Wah, kalau urusan mengembalikan uang aku tidak ada solusinya. Tapi kalau urusan supaya tidak dibohongi lagi, aku punya asuransi, namanya ‘Asuransi Akal Sehat dan Jangan Terlalu Rakus’. Krama Bali sudah sering kena tipu, dahulu ada KKM, sekarang Balicon. Semua itu karena mereka lupa memakai akal sehat dan terlalu rakus ingin mendapatkan keuntungan.


Sabtu, 04 Desember 2010

Bungklang Bungkling: Kredit oleh Wayan Juniartha

Diambil dari kolom ‘Bungklang Bungkling’, ‘Kredit’, di harian Bali Post, Minggu, 31 November 2010, oleh I Wayan Juniartha. Diterjemahkan oleh Putu Semiada



KREDIT

Meskipun hari lahir orang Bali berbeda-beda, dengan wewaran maupun wuku yang berbeda-beda, namun banyak sekali yang lahir pada tumpek yang sama, yakni: Tumpek Gengsi.

Begitulah kesimpulan I Wayan Morat Marit. Diskusinya juga belum mulai tetapi I Wayan langsung memberikan kesimpulan. Warga yang lain hanya senyum-senyum saja.

“Oleh karena itulah banyak sekali orang Bali yang tidak mau mengalah, tidak boleh ada yang lebih tinggi dari dirinya, dan tidak boleh jatuh gengsi. “

Jika tetangga membeli mobil baru, mereka yang lahir pada ‘Tumpek Gengsi’ akan berlomba-lomba membeli mobil baru. Bila perlu mobil yang lebih bagus. JIka tetangganya membeli Kijang, maka dia akan membeli Mercy. Sekalipun dia tidak bisa menyetir, meskipun rumahnya jelek dan tidak ada garasinya. Akibatnya Mercy nya diparkir di bawah pohon nangka sehingga siangnya banyak burung yang membuang kotorannya di atasnya dan malamnya menjadi tempat ayam tidur. Yang penting tidak kalah gengsi dengan tetangga.

“Jika ada tetangga punya Blackberry, maka segera dia akan membeli Balckberry empat biji, sehingga mulai dari kantong baju hingga kantong celana penuh dengan Blackberry. Meskipun tidak mengerti masalah internet, tidak tahu masalah email dan chatting. Meskipun keempat Blackberry tidak ada kartunya. Yang penting kelihatan membawa Blackberry yang banyak,” kata I Wayan lagi.

Artinya yang penting memang penampilan, atau yang bisa kelihatan.

Biasanya yang lahir pada Tumpek Gengsi, kebanyakan tidak berani mengambil pekerjaan, apalagi pekerjaan kasar. Jangankan menjadi buruh, menjadi pegawai kantoran juga kadang-kadang tidak mau. Katanya gengsi kalau menjadi bawahan.

Kebanyakan orang Bali yang gengsi itu pada akhirnya bekerja di LPD (Lemah Peteng Diwang = Siang Malam Hanya di Luar) dan KKN (Kilang Kileng natakan Lima ken rerama = Tinggal minta uang saja sama orang tua).

“Kalau bekerja saja sudah tidak mau, lalu dimana orang-orang itu mendapat uang untuk biaya memelihara gengsinya?” tanya I Made Srarat Sririt.

Jika dahulu agak susah menjaga gengsi. Banyak yang menjual warisan supaya tetap bisa bertampang kaya, supaya tetap bisa mempertahankan gengsi.

“Jaman sekarang gampang sekali memelihara gengsi karena banyak sekali lembaga-lembaga keuangan yang mendorong warga Bali untuk tetap memelihara gengsi. Jika ingin memiliki sepeda motor atau mobil baru supaya tidak kalah sama tetangga, banyak sekali lembaga kredit yang siap memberi pinjaman, mulai dari lembaga finance, bank sampai LPD (Lembaga Perkreditan Rakyat),” kata I Wayan.

Jaman sekarang tidak ada barang yang tidak bisa dicicil. Mulai dari rumah, mobil dan sepeda motor, bahkan creambath dan rebounding.

“Karena semua bisa dicicil, maka jangan terkejut melihat orang Bali yang untuk beras hari ini saja tidak kuat beli, tetapi tetap bisa ke sana kemari naik Honda baru.”

Karena banyak sekali yang hidup demi gengsi, jadi jangan terkejut jka banyak orang Bali yang tidak punya tabungan dan deposito rajin sekali ke bank dan LPD. Rajin meminjam uang dan rajin mencari kredit.

Karena banyak sekali orang Bali yang ke bank dan LPD mau meminjam uang untuk memelihara gengsi, maka jangan terkejut jika melihat makin banyak saja orang Bali yang bergengsi tinggi berpura-pura kaya.

Jadi kalau lahir di Tumpek Gengsi memang seperti itu. Meskipun miskin yang penting dikira kaya oleh tetangga maupun sejawat. Meskipun tidak punya tapi masih bisa pinjam. Meskipun tidak bisa bayar tunai yang penting masih bisa mencicil.

Catatan:

Wuku, wewaran, tumpek adalah nama-nama hari dalam penanggalan Bali.

TRAVEL DIARIES



Published in Now! Jakarta, January 2011

==================================================



The city skyline of Singapore with the new Sands Casino building to the right.



Last month I flew on an Emirates Airbus 380 from New York to Dubai and it was the best flight of my life: the cabin crew in business class were all Miss Universe contestants and the back of the cabin has a gay bar with a bondage section for horse-trading sheiks and others.

My trip started in Singapore where I visited the famed Malay food hall at the colonial era Central Railway Station which straddles the station’s platforms and has quaint little gardens, replete with rusty old track-cleaners as artwork ‘accents’.

In January 2011 the station will close and the final curtain will drop on the Island Republic’s most convivial hawkers’ market.

It should be noted that, in the better hawkers’ markets of the Malay Peninsula, one often finds, amongst the greasy ‘prawn cushions’ and buckets of chili sauce, a liberal sprinkling of ‘Malays’ of Punjabi, or Arab descent serving the most delicious briyanis and goat meat stews.

While attractive dining options for the wealthy have increased one hundred-fold, the simple man’s pleasure spots — the kopi tiam cafes and satay stalls — have, for the most part, been demolished ‘coralled’ into noisy, neon-lit food halls.

Sanity over sensuality I call it.

From central station, it’s a short hop to Santosa Island, the old colonial era outpost which is now a sort of recreation and leisure centre — there are ten hotels, a Universal Studio, a casino, a Sea World and numerous well-catered beaches — with luxury coastal real estate on the side. I have a job doing a garden on Billionaire Row — that strip of cutting edge, slightly sinister houses mostly modeled on micro-wave ovens.

There is a slightly seedy side to Sentosa too. On Black Sabbath Eve ‘Foam Parties’ are held on the beaches near Sea World: lithe young accountants, homosexualists and party animals converge into one big writhing mass of shaving foam and dance to a disco beat.

I went once but lost my partial denture and couldn’t find it in the foam.


The handsome Art Deco façade of the Central Railway building in Singapore.


A facade on a ‘McDream Home’ at Santosa Cove, Sentosa Island, Singapore.


‘Jihadista’ Haji Abbas, my security consultant, at Sea World.


Mah Siti one of the vendors in Singapore’s legendary Central Railway food hall.




The assistant to the wash-room attendant at the Central Railway has been asleep for 38 years.



The food hall signage is militant, Malay but user-friendly.


• • •


Next I fly to Houston via Mangalore India: Emirates flies to Houston non-stop from Dubai daily.

Houston is the best international arrival point in the U.S.: they have a ‘One Stop’ lane for travelers with only hand luggage, and an airport Marriot hotel — reached via the airport’s excellent inter-link rail service — that has a fabulous revolving restaurant.

On my day off I visit the incredible De Menil Collection in one of the world’s finest small museums.

Designed by Renzo Piano, the exquisitely proportioned, naturally-lit, warm and friendly museum houses, in one section, a remarkable collection of African, Oceanic and Primitive Indonesian art — displayed in veranda-like rooms with wide-planked, timber floors — and, in another section, the best of America’s abstract expressionists. In another remarkable section are works by a collection of Europe’s best surrealists and impressionists — René Magritte and Picasso in particular.

The day I was there they had a room set up with pieces from surrealist artists studios, which included tribal art from Nias, Kalimantan and Papua!

John and Dominique De Menil had exquisite taste, great advisors and a knack for acquiring real estate — she was a Schlumberger, of Schlumberger Oil; he was to eventually run the world-wide Schlumberger operations from Houston). Their five mini-museums sit in a leafy suburb they purchased and ‘dolled up’, so that everything matches.


• • •


Next I went to Naples in Florida where the Asian garden section of the Naples Botanical Garden was finally opened by Sarah Palin.

Palin was fascinated by the Candi Sukuh ruinscape and the notion that Java was something other than a program on Windows.

I delivered a lecture on “Post-Zen Depression” to 200 septuagenarians at the Naples Garden Club. In America they now have ‘crowd controllers’ in Republican enclaves to guard against flash mobs of men kissing, or, as was the case here in Naples, ‘hot flash’ mobs.

The lecture was well-received: in the New World they are great supporters of my Romantic Charm Garden Revival movement. Alhamdulillah!



Students schmooze on a modern art sculpture in one of the many parks around the Menil museums in Houston, Texas.



The room of the Surrealists objects trouvées at The Menil Collection museum in Houston.



Our ruinscape in the Asian Garden Section of Naples Botanical Garden, Florida.



A dashing waiter at the opening party in Naples (Thai Garden in the backyard).


• • •


From Fort Meyers I travel to New York on the wonderful ‘boutique budget’ airline JetBlue which uses the old, chic TWA terminal at JFK. The terminal was originally designed by Eero Saarinen, in the 1960s and has now been re-vamped as the JetBlue hub.

In New York I got taken for a ride by venture capitalists and then went to the opera to see Verdi’s ‘Il Travatore’ at the Met.

It being New York they had lots of fit, black men on stage with their shirts off, hitting anvils.

• • •

Finally, on the home leg, I get to the top deck of the Gay 380 (as the Emirates crew call it) via a special chute that leads from the Emirates amazingly-stocked lounge at JFK. In the lounge they have Vanity Fairs and Chateaubriands and Diet Pepsis, and banks of computers waiting to be used.

The flight is wonderful and I love the lounge at the back of the business class cabin on the top deck.

I always thought ‘lounges’ on airplanes were a bit of a silly idea but in fact they are wonderful, particularly if one is slipping in and out of a fever, as I was. It is re-assuring to stagger back between sweaty sessions on the ‘lie-flat’ and engage a Miss Ethiopia or a Miss Well-borne Melbourne in witty repartee over a bowl of cornflakes at the bar.



Me in the bondage section of the lounge on Emirate’s Gay 380, New York to Dubai.


• • •

Arriving back in Delhi was hellish: after American teeth and sanitary ware, India just looks stained. Immediately I miss the big glasses of chilled water (that induce antrum seizure) and the supersized people (the Indian gardeners I work with are generally waif-like) and all the parks and recreation.


Public art in the arrival hall at Delhi’s new airport.

• • •

After two weeks on the road I arrived back to a Bali where the yoga and retail hags are still banging on about the ravishing new Starbucks in Ubud.

At the Linda Garland estate celebrity gays are getting married in full Balinese costume, dressed as village priests!

I don’t know why I leave, really.

It takes a few days to get over the jet lag but I soon return to my small village life ‘comfort zone’.

One night in late December, I arrive at my Scrabble buddy Putu’s house in Sidakarya village to find the Ponorogos, Pak Putu’s builders, cleaning a duck carcass in the bush kitchen. Putu loves his flock of garden ducks so I was distressed.

“What happened?” I asked.

“Too much lovin,” came the reply.

Apparently poor Daisy had become just another statistic in the tawdry tale of duck date rape in Bali.


STRANGER IN PARADISE: BALI’S BLONDE CRUSADERS


Milo and Made on Mertasari Beach.


Bali’s Blonde Crusaders


Well, I am a bottle-redhead Sanur resident, I guess, and in the 30 odd years of banging on about Hindu-Bali affairs in this column, I suppose I’ve had some influence; but I’d like to be remembered more as the champion of the revival of the batik headdress, than, say, the inventor, with Putu Suarsa, of the Balilamp (Sanur’s answer to Microsoft).



(Left) 28th October 2010: Big Balinese Petileman (soul-purification rites) at Mertasari Beach, Sanur.
(Right) A celebrant on Mertasari Beach.


There is a growing number of ‘white crusaders’ changing the face of Bali. The new blonde vigilantes — power-dressed in well-structured Nehru-jackets — are driven and devoted.

‘Queen of Ubud’ Janet De Neefe is the leader of the pack. She is the founder of the enormously successful Ubud Writers’ and Readers’ Festival, inventor of the bullet-proof white corsette, and a lover of all things bright and beautiful.

Her presence is almost Messianic.

She has four Balinese children, three restaurant-loads of devotees, and a column in the Jakarta Post devoted to her inner goddess. Janet is the real deal and the Sarah Palin of Bali.

On the men’s side, couturier Milo (who, like many Latin superstars goes by only one name) is the most visible amongst the ‘born-again’ Hindus. A master of mix ‘n’ match, his temple dress is always inspiring. Over the last few years he has led delegations of Hindu Balinese priests — mostly from Seminyak — to South India, and to the oldest Hindu site in Indonesia, in Kutai, East Kalimantan.

Milo’s magnificent garden-home on Jalan Dyana Pura — the Palazzo Versace of Seminyak — with its signature opalescent gate and meditation tower is a symbol of piety in an area otherwise known for its jockstraps and nipple rings.

In Sanur, on the East Coat, there are any number of well-borne Melbourne girls married to local Brahmans (but none with the following of Our Janet of Ubud).

What about this writer did I hear some readers ask?

Well, I am a bottle-redhead Sanur resident, I guess, and in the 30 odd years of banging on about Hindu-Bali affairs in this column, I suppose I’ve had some influence; but I’d like to be remembered more as the champion of the batik headdress, than, say, the inventor, with Putu Suarsa, of the Balilamp (Sanur’s answer to carriage lamps).

Here, ‘Honkies’ take Hindu names — unlike India where they often remain ‘exotics’ and start sleeping with cows. ‘Born-agains’ in Bali actually enter the work force, and become militant and righteous.

Look at Jack ‘Voice of Bali’ Daniels of Discovery Tours fame, with his mega-popular website. The Hindu Street is defined by the Discovery blog. No bio-diversable conference goes unrecorded, no shift in government policy nor mutation in the tourism industry would take place without Jack, the Billy Graham of Padanggalak, first announcing it!

The kindly Jack is also a lay preacher and regularly conducts funeral services at the all-denominational crematorium in Mumbul.

Last month he was M.C. for the funeral of the much-loved musicologist James Murdoch, who died in Sanglah hospital aged 80. Le tout Ubud turned up — most in discreetly fabulous Hindu costume, including Jero Asri, wife of Ubud’s charismatic bendesa (chef of ceremonies) and founder/owner of the heavenly BIKU tea rooms in Jalan Petitenget, Seminyak (and founder with her husband, of the IBAH hotel in Campuan, Ubud).


James Murdoch’s beloved butler Diono collapsed into a Balinese friend’s arms as the coffin entered the fire.


(Left) Jack Daniels and famed Malaysian dancer Ramli Ibrahim at Murdoch’s funeral.
(Right) James Murdoch.

Asri’s son Tjokorda Bagus recently married Jakarta film star Happy Salma in a lavish ceremony at the Ubud Palace (see Stranger in Paradise, ‘“B.T.”: Teen Depression in the Age of Starbucks’, November 2010).

Last month also saw the launch of a film ‘Sacred and Secret’ by a Belgian Film Production crew, which featured the spectacular cremation of Jero Asri’s brother-in-law, late Prince of Ubud Tjokorda Gede Agung Suyasa. The film crew’s guide and adviser was Barone Gill Marais who, with Pemuteran ‘Polly’ (Diane von Cranach), England’s Earl of Warwick, Lady Diana Darling, Sir Warwick Purser and Contessa Maria Grazzia, make up the island’s quite sizeable European ‘court’.

Literary world aristocrat Jamie James — former art critic of the New Yorker — holds court in North Seminyak with his consort ‘Bonita’ of Bonita Restaurant, ‘Bonita’ Real Estate and Warung Sulawesi fame.

While not a born-again Hindu, James is a director of the Writers’ Festival and Indonesia’s point man for Time magazine and Conde Naste.

No fashion-plate, Jamie James makes up for lack of sartorial splendor with an ever-changing display of his artistic consort’s ‘Easter bonnets’ in his studio’s waiting room.


Gung Bagus at the big Peliatan cremation on 2nd November 2010

* * *


9th November, 2010: The Asian Gardens open at the Naples Botanical Garden, Florida

Balinese gardens have gotten a bad name since the late 1990s when the ‘Bali-Style’ fashion trend peaked.

Bali-lamps, temple umbrellas and cheap statuary were exported en masse to every corner of the world, to litter the gardens of home-owners in search of an ‘exotic tropical’ touch!

Kitschy ‘Balinasia’ fantasy gardens started popping up in hotels in Bali, Thailand, Malaysia and India too.

The first decade of the new century has seen a marked interest in minimalist garden designs which suffer from a lack of soul, rather than an abundance of it.

All this is not to say that Balinese gardening is dead (one only has to go to any traditional Balinese village or temple to see that) but one could argue that the art of making a good ‘Balinese’ garden in a commercial setting is a dying art.

The New Asian Garden at the Naples (Florida) Botanical is the first landscaping project I have done — since doing the Four Seasons Resort in Jimbaran — which is unashamedly ‘oriental’.

All the elements except the plants were made in Bali and shipped, as were four of my garden commandoes — over six weeks they pieced everything together again and earned the love and respect of the local ‘crackers’ the way the Balinese do before stealing their wives. (Fortunately the average age for women in Naples is 71).

The team’s leader, Dewa Sucita, was quoted in the Naples daily News:

“I Love pizza, and beer, and Hooters!”

I went to Florida three times over the last six months to fine-tune the planting schemes and to carry, for the Balinese, rare food items (snake oil, fried eels, Nescafe ‘Three in One’) and magazines (Romans and Detektifa; Robb Real Estate and the Bali Post).

Tonight’s party for 500 donors and patrons is a gala sit-down dinner. The tables are decorated with stuffed baby alligators and Begonias. My Balinese are writhing, semi-naked, (flowers behind ears only) in golden cages, donated by the Tea Party (Naples is a conservative stronghold).

Vietnam vets have occupied the Thai pavilion from which pour clouds of herbal marijuana smoke.

I am sitting next to the editor-at Large of ‘Town and Country’ magazine, America’s oldest, who says she loves the garden and wants to take Dewa home.

I haven’t had so much fun since Melbourne Cup Day at the Canggu Club!

On large screens photos flash of the Balinese teaching Amerindians how to thatch and how to sell tribal lands to rich white women. Ahahahaha!

Not really, but is a great day for the noble art of Balinese gardening, and the romantic tropical garden movement in particular.


Balinese Shrine: Every Balinese temple is a gorgeous garden. In these temples there are shrines to the Goddess of Fertility (Dewi Sri), the consort of Dewa Wisnu, the preserver, the Lord of the Mountains and to the mountain lakes so vital to irrigation and agriculture.


Compang: The four Balinese commandos in the Ancient Asia section. The ancient villages of Eastern Indonesia all have raised stone platforms ― called compang, at their centre. Here tribunals are held. Often-times these compang ‘grow’ totems which signify an important person or event.


Hindu Javanese Temple Ruinscape: Before the arrival of Islam, Java Island was for 500 years, the crowing glory of ‘Farther India’, the countries that make up present day South East Asia. Candi Sukuh, the last temple of Java’s Classical Hindu Era (late 15th century), exhibited a return to ‘aboriginal’ Javanese motifs and a distinctly non-Indian style. This garden is a ‘ruinscape’ of the original temple, situated outside Solo.


New Asia: Tourism has ushered in a new ‘modern’ era in tropical Asia: no-where is this more celebrated than in the decorative garden arts. These murals (above) — realized by Bali’s oldest landscaping firm P.T. Indosekar — are a celebration of “New Asia”, and a celebration of motifs based on nature.

* * * * *




===================================================================





Tim Streef-Porter